Minggu, 31 Maret 2013

Sistem Pendidikan Kita Mengekang Kreativitas

Coba kita semua membayangkan saat kita masih kanak-kanak, bermain ayunan bersama teman-teman kita, makan bekal sarapan, dan masih berumur sekitar 5 tahunan. Banyak pertanyaan yang tak jarang dilontarkan guru atau ibu-ibu yang juga mengantar anaknya ke sekolah tentang masa depan. Seperti “Kalau nanti kamu sudah besar ingin jadi apa ?” Ya, kita bisa dengan mudah menjawab, ingin jadi presiden, dokter, atau yang lainnya kelak, dengan sangat spesifik dan simpel. Padahal kita bahkan belum bisa mengeja huruf alfabet secara lengkap.
Sadarkah kita semua sekarang, bahwa saat kita menanjak dewasa, kita semakin takut akan resiko dan rasa malu. Berpikir ribuan kali untuk menimbang dan meramal resiko resiko akan apa saja yang kita rencanakan di masa datang, dan tak jarang malah menjadi sebuah ketakutan tersendiri yang menghambat kita semua untuk maju. Hal yang secara alami terbentuk saat kita dewasa, saat kita mengenal pendidikan formal. Di sekolah anak selalu ditekan agar selalu benar dan jika salah akan dihukum. Ini yang membuat anak semakin takut untuk berbuat sesuatu.
Itulah yang sekarang menjadi hambatan kita untuk maju dalam segala hal, dalam konsep individu maupun kenegaraan. Negara ini sudah dewasa dalam hal memikirkan resiko dan lainnya, tapi tak dewasa dalam bersikap. Arti dewasa itu sendiri, kita semua mulai memikirkan hal yang muluk, tapi malas untuk kerja keras. Kita semua sudah terasuki dendam, iri hati, dan lainnya. Halo itu yang sedikit banyak menghambat proses Indonesia untuk maju, dari dasar, dari awal, dari masyarakatnya sendiri.
Indonesia kita tercinta ini akan menginjak umur 68 tahun kemerdekaannya. Banyak kasus kejahatan sosial dan hambatan negara kita ini untuk maju. Kita orang-orang yang termasuk didalamnya, selalu menuntut kesempurnaan instan, menjadikan Indonesia maju di segala bidang dan lainnya. Tak lupa juga kita sebagai warga negara Indonesia, tak jarang masih saja gemar memperdebatkan perbedaan tentang suatu kelompok sosial maupun agama yang sebenarnya tidak ada gunanya untuk kemajuan negara ini. Kenapa kita tidak terbiasa dengan pro kontra ? Apakah kita kurang dewasa ?
Kita sekarang, harus menemukan solusi yang sederhana untuk memajukan negara kita tercinta ini. Sekarang saya ambil contoh gagasan untuk mengubah Indonesia, yaitu dengan merubah pola pikir kita semua. Kita harus mengubah pandangan bahwa masa depan Indonesia ini suram, kita harus mengubah ribuan pesimisme menjadi sebuah optimisme. Kita harus berpikir positif untuk merubah Indonesia ini menjadi lebih baik, dari awal.
Sekarang, saatnya kita merubah pola berpikir instan, merubah pikiran dasar kita yang awalnya bekerja untuk uang, dan mengganti bekerja untuk kemajuan bersama. Mengubah mimpi-mimpi untuk Indonesia menjadi suatu kerja yang nyata. Berhenti memperdebatkan hal-hal tidak penting dan menggantikannya dengan sama-sama berdikusi untuk melahirkan sebuah solusi. Dari awal, dari diri sendiri, dan menjadi Indonesia seutuhnya.
Kesimpulannya adalah, sekarang bukan saatnya bermimpi dan membangun sebuah karya di angan-angan saja. Sekarang adalah saatnya kita semua menembus batas ketakutan, mendobrak tiang-tiang penghalang untuk berkarya, bagi Indonesia kita semua

Selasa, 19 Maret 2013

Tetaplah Bersinar!

Kadang ketika kita berada di kegelapan dan melihat banyak hal di sekitar kita yang seharusnya bisa lebih baik, kita hanya memilih untuk berdiam diri dan mengutuki sang pembuat kegelapan itu. Atau bahkan kita justru berubah menjadi bagian dari kegelapan yang terbentuk di sekitar kita. Kita tidak sadar dan menganggap bahwa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan kegelapan itu, mengingat begitu gelapnya sekitar kita saat itu.

Menjadi terang ditengah kegelapan memanglah suatu tantangan yang sulit untuk dilakukan Banyak hal yang akan menghalangi sinar yang kita pancarkan ke sekitar kita. Namun, dalam keterbatasan sinar terang kita yang terhalang banyak hal dalam menerangi kegelapan itu justru kita akan mendapatkan suatu pemandangan dan pengalaman yang indah, hal yang tidak kita dapat saat sinar-sinar terang kita tidak terhalangi. Jalur-jalur cahaya yang terbentuk saat sinar yang kita pancarkan dalam kegelapan terhalangi oleh berbagai hal, akan terlihat sangat indah dan menjadi suatu nilai lebih tersendiri dalam kehidupan kita, jadi semakin banyak halangan kita untuk menyinari kegelapan, makan akan semakin banyak jalur-jalur cahaya yang terbentuk dan terliihat indah di mata sekitar kita. Tetaplah bersinar untuk menyinari diri sendiri lalu menyinari sekitar kita dan temukan keindahan jalur cahayanya.

Rabu, 13 Maret 2013

Galau

Apakah kesabaran dan perjuanganku benar-benar tak terlihat di matamu? Kau tahu segalanya kan? Lalu kenapa kau diam? Mengapa kau bisu?
Aku menulis ini dengan rasa sakit yang menohok tepat di pelipisku. Ya..kamu memang tidak benar-benar memahami. Aku menatap tuts keyboard laptop dengan raut masam. Aku sadari itu. Aku hanya ingin kau menyadari, aku butuh kepedulianmu!

Rabu, 27 Februari 2013

Esai Pendek: Modernisasi dalam Pelestarian Budaya



Pelestarian budaya hendaknya melibatkan generasi muda. Ini penting karena generasi mudalah yang akan menjadi penerus dan pemegang warisan budaya di masa depan. Untuk merealisasikan misi ini hendaknya kegiatan pelestarian budaya dilakukan melalui langkah-langkah yang modern. Hal ini agar lebih menarik minar generasi muda yang hidup di masa modern seperti sekarang.
Pada zaman modern seperti ini, pelestarian kebudayaan bisa melalui program radio, televisi, film, internet, dan media cetak. Jika kebudayaan disajikan dalam bentuk-bentuk seperti ini, generasi muda pasti akan tertarik karena kebudayaan bagi mereka tidak kuno dan ketinggalan zaman. Senang sekali karena langkah-langkah seperti inilah yang sudah mulai dilakukan.
Ambil saja contoh program televisi word of wayang yang disiarkan kompas tv yang semakin mendekatkan wayang terhadap generasi muda karena disajikan dengan cara modern. Kasus lain adalah lagu pop Bali. Secara tidak sadar, melalui lagu pop Bali, bahasa Bali telah dilestarikan dan generasi muda ikut mencintai bahasa Bali.

Senin, 18 Februari 2013

20 Paket Soal UN dalam Perspektif Saya

Format kelulusan siswa dari jenjang pendidikan yang cenderung berat ke nilai UN tidak tepat dan terkesan sudah "merampok" hak yang sejatinya harus menjadi hak penuh para guru. Dalam stiap pengumumam kelulusan siswa, seringkali guru terpaksa hanya mengelus dada lantaran menyaksikan banyak sekali siswa-siswa berprestasi "rontok" di UN. Sementara siswa yang dinilai kurang berprestasi justru bisa melenggang mlus karena nilai UN-nya justru melampaui siswa-siswa yang berprestasi. Ini nyata!

Proses pendidikan selama tiga tahun (di SMA dan SMP) terasa sia-sia, tidak berarti apa-apa karena bisa dipatahkan dengan UN yang hanya berlangsung selama tiga hari sampai empat hari saja. Sungguh miris. Semua menjadi bias, karena tak ada jaminan siswa-siswa yang berprestasi lulus dengan mudah. Sebaliknya siswa yang tidak berprestasi mendadak menjadi istimewa karena nilau UN yang didapatkan melambung tinggi meskipun terselip keraguan prestasi yang mereka peroleh dengan cara-cara yang tidak fair. Apalagi dengan munculnya 20 paket soal pada UN SMA tahun ini menyiratkan ketidakpercayaan pemerintah terhadap kejujran insan pendidikan.

Hemat saya, tidak akan ada kejujuran semasih kelulusan hanya ditentukan oleh UN. Hal ini dikarenakan format kelulusan yang cenderung berat ke nilai UN telah mengiring siswa maupun guru lebih mementingkan hasil akhir ketimbang proses untuk bisa mencapai standar nilai minimum kelulusan itu.

Kamis, 14 Februari 2013

Tidak Hanya 14 Februari

Memaknai cinta dan kasih sayang tidak dapat menggunakan teropong terbalik. Perspektif ini menyebabkan penyempitan makna terhadap objek sehingga apa yang seharusnya luas dan besar terlihat menjadi sempit dan kecil. Ini dilakukan agar kita tidak memaknai cinta dengan sempit.
Salah satu contohnya adalah ketika para remaja saat perayaan valentin atau hari kasih sayang. Sebuah hari ketika Februari, di mana cinta dan kasih sayang seakan sempit dan dangkal. Cinta yang sejatinya mengandung makna begitu mulia, dipersempit menjadi sebatas cokelat dan bunga mawar. Cinta yang seharusna memiliki jutaan warna berubah menjadi warna pink saja.
Cinta yang seharusnya terjadi dengan ikatan suci berubah menjadi murahan dengan janji gombal tak berarti. Lebih parah lagi, kasih sayang yang mestinya ada setiap saat, setiap waktu, dan setiap hari, tiba-tiba jadi raib dan hanya didapatkan pada 14 Februari saja.
Cinta dan kasih sayang itu ada ketika seorang nenek menyuapi mantan kekasihnya dengan penuh kasih sayang setiap hari, karena kondisi pasangannya yang sudah melemah. Walau sebenarnya sama-sama lemah, tapi mereka melewatinya tetap dengan cinta. Cinta juga ada ketika seorang ibu di gubug sederhana menyuapi buah hatinya. Sang ibu sangat mencintai buah hatinya. Kasih sayang ada ketika seorang pembalap dengan cinta mengelap motor kesayangannya walau kendaraannya tersebut sudah lecet dimana-mana. Masih banyak lagi kisah cinta dan kasih sayang yang tidak dilakukan pada 14 Februari, tapi sesungguhnya itulah cinta dan kasih sayang spenuh hati.
Hari valentin hanyalah pengingat bahwa kasih sayang sangat penting di dunia. Cinta sangat perlu dipahami secara luas, tak sempit, bukan sehari. Hari penuh cinta. Kita diingatkan bahwa setiap hari semestinya penuh kasih. 14 Februari hanyalah penanda.

Minggu, 27 Januari 2013

Mengelola Majalah Sekolah

Sebagai seseorang yang pernah membimbing teman-teman mengelola majalah, saya banyak belajar dari teman-teman (yang ketika itu masih SMA) yang kreatif. Mereka sangat kreatif menulis, membaca, dan melayout tampilan majalah. Merekapun mampu untuk saling bekerjasama menerbitkan majalah sekolah yang biasanya diterbitkan satu semester sekali selama 6 bulan.

Untuk mengelola majalah sekolah sebenarnya tidaklah terlalu sulit.  Hal yang tersulit saya rasakan adalah menjaga agar tulisan tidak terlihat basi dan terupdate dengan baik. Dewan redaksi harus menjaga mutu tulisan, sebab majalah ini terbit hanya 6 bulan sekali. Oleh karena itu, kami selalu mengadakan kegiatan studi jurnalistik, semacam share sambil belajar di lapangan. Mereka dilatih dan diarahkan untuk mengelola sebuah majalah sekolah.

Kelak jika Anda menjadi seorang guru, hal ini sangatlah penting. Majalah sekolah (atau majalah dinding sekalipun) adalah media yang sangat terhormat untuk menyampaikan inspirasi. Jadi langkah yang harus Anda lakukan adalah latih peserta didik kita (seperti cerita di atas, seperti yang telah saya lakukan terhadap teman-teman saya ketika SMA) untuk bertanggungjawab dan kreatif mengelola majalah sekolahnya sendiri. Ajak mereka untuk menemukan potensi uniknya menyampaikan pesan dalam bentuk tertulis. Kalau mereka sudah terbiasa mengelola majalah sekolah dengan baik, ketika lulus mereka sudah pengalaman dalam mengelola sebuah majalah sekolah.

Jumat, 25 Januari 2013

Saatnya Sekolah Inklusi Diperjuangkan

saat ini pendidikan di Indonesia masih melihat peserta didik dengan satu kaca mata, bahwa semua anak adalah sama. dalam beberapa sudut pandang, hal ini sangatlah mendiskriminasi. walau pandangan itu ditujukan awalnya untuk menghilangkan diskriminasi. demi merobohkan tembok pembatas antar siswa dalam kehidupan sosialnya. well, ga selalu bagus.

diskriminasi malah muncul ketika siswa dipandang sama. hal ini kentara di ruang-ruang belajar. akibatnya, pemberian materi pendidikan diberikan sama antara satu anak dengan anak yang lainnya. harusnya, setiap anak diberikan ruang dan hak yang sama untuk berkembang sesuai kapasitas sang anak. bukan 'dipaksa' berkembang di luar batas kemampuan anak.

walaupun kita harus memandang setiap anak sama. hendaknyalah kita lebih bijaksana lagi dalam menyikapi 'kesamaan' yang dimaksudkan itu. seara hakiki, tidak ada manusia diciptakan sama. tak bisa dimungkiri lagi. bahkan anak kembar pun tak sama persis kan? yang pasti setiap anak istimewa.

tidak semua anak terlahir secara sehat fisik (mungkin psikologi juga). adakalanya manusia terlahir difabel. tapi jangan pernah mengira bahwa difabel hanya terlihat secara fisik. fisik kurang = difabel. menurut saya, orang sehat (secara fisik)pun terkadang memiliki cacat (difabel), yaitu pada otak/pikirannya! para koruptor itu difabel otaknya! jadi predikat itu tidak hanya bagi orang-orang tunanetra, tunarungu, dan orang-orang berkebutuhan khusus lainnya.

mari kita fokus kepada judul. mengapa sekolah inklusi? sekolah inklusi adalah sekolah formal (normal/biasa) yang memberikan ruang atau akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. yang saya serukan pada judul itu adalah melihat kenyatan bahwa di luar sana masih banyak sekolah biasa yang tidak menerima anak yang sesungguhnya berkebutuhan khusus. lalu tidak semua orang tua mau menyekolahkan anak mereka yang sesungguhnya perlu 'pengajaran khusus' ke sekolah luar biasa. sebagaimana kita tahu hal ini akan sangat berpengaruh pada psikologis anak. saya mengerti perasaan sang orang tua. saya juga mengerti keadaan di sekoah biasa, karena terkendala guru khusus.

dalam pandangan saya. anak berkebutuhan khusus itu sangat luas cakupannya. tidak hanya anak-anak yang menyandang predikat difabel, namun juga anak-anak yang mengalami beberapa gangguan semisal lambat belajar, hiperaktif, autis, dan berpenglihatan terbatas. sebab secara fisik mereka hampir sama dengan anak normal. inilah yang sulit jika mereka dimasukkan ke sekolah normal (biasa) atau ke sekolah luar biasa. hal ini dikarenakan kebutuhan pendidikan anak berkebutuhan khusus tidak bisa disamakan dengan kebutuhan pendidikan untuk anak normal. sekolah inklusi sendiri juga merupakan sekolah yang menekankan pendidikan anak dengan pendekatan individu, bukan klasikal. dan situasi seperti inilah yang dibutuhkan anak-anak yang mengalami beberapa gangguan itu.

Senin, 21 Januari 2013

Sekilas Wayang Ceng Blonk

Seni pertunjukan wayang mungkin tidak terlalu digemari oleh generasi muda zaman sekarang. Apalagi seumuran dengan saya, dan generasi di bawah saya. Karena bagi sebagian orang, pertunjukan ini susah dimengerti, karena bahasa dan cerita yang menggambil kisah-kisah berat seperti Ramayana dan Mahabarata. Walau begitu, dalam melestarikan pertunjukan (kesenian) wayang ini, banyak inovasi dilakukan oleh para pelaku wayang. Mulai dari merekontruksi cerita, serta isu-isu kekinian yang diangkat, tanpa kehilangan ruh pesan-pesan luhur cerita wayang yang sudah ada, sehingga masih bisa dikonsumsi oleh generasi zaman sekarang.
Wayang Ceng Blonk adalah salah satu wayang yang mengikuti perkembangan isu-isu sosial serta teknologi terkini dalam mendukung pertunjukkannya. Terbukti, wayang ini dapat dinikmati oleh lintas generasi. Wayang yang didalangi oleh Nardayana ini sukses memunculkan lagi apresiasi wayang di kalangan generasi muda.
Belayu adalah nama sebuah desa di Bali selatan—ia secara administratif masuk dalam wilayah kabupaten Tabanan, beberapa belas kilometer ke utara Denpasar—dimana wayang ini muncul pertama kali pada sekitar tahun 1997-1998. Kemunculannya saat itu dibidani oleh seorang dalang bernama Nardayana.
Ceng Blonk, sebuah inovasi dari wayang kulit purwa tradisional yang menjadi fenomena baru di Bali. Wayang ini sangat populer dengan frekuensi pentas sangat tinggi. Bahkan ia mencatatkan diri sebagai pertunjukan wayang pertama yang direkam dalam format video komersial. Satu hal yang menarik, kehadiran wayang ini erat dikaitkan dengan angin keterbukaan di Indonesia pasca reformasi dimana kritik sosial adalah sebuah hal yang niscaya dan wajib menjadi konsumsi masyarakat. Itulah sekilas keunikan wayang Ceng Blonk yang membuat ia begitu digandrungi.
Pementasannya sudah memakai nama Ceng Blonk sebagai trade mark serta disertai pula dengan inovasi-inovasi kreatif. Inovasi tersebut mencakup perihal teknis pementasan dan penokohan. Kedua hal inilah yang pada akhirnya membawa ciri khas tersendiri pada Ceng Blonk.
Ceng Blonk sendiri selain merupakan trademark sekaligus juga nama dua karakter kreasi dari sang dalang. Ceng dan Blonk adalah rakyat biasa yang tidak berperan sebagai punakawan atau abdi dalem. Nardayana tampaknya mencipta dua tokoh rekaan ini dengan tujuan memberi ciri khas wayangnya sekaligus untuk menghadirkan suara rakyat kecil di luar lingkaran istana. Memang benar, para punakawan merupakan potret rakyat jelata dalam pakem pewayangan konvensional, namun mereka tetap mengabdi kepada tuannya di dalam lingkungan tembok puri. Jadi tujuan kehadiran dua karakter ini adalah untuk melengkapi suara-suara kaum hamba sahaya atau punakawan yang merupakan fokus utama yang diangkat oleh sang dalang. Dan memang justru kehadiran dua karakter ini yang ditunggu-tunggu oleh para penonton.
Yang menjadi nilai lebih dari wayang kebanggaan Desa Belayu, Kec. Marga, Kab Tabanan ini adalah penambahan beberapa unsur pertunjukkan, seperti mengganti gamelan gender sederhana yang dipakai dalam pementasan wayang kulit Bali konvensional dengan perangkat gamelan lengkap, selain itu juga ditambah dengan adanya sinden (gerong dalam istilah Bali) mengiringi pertunjukkan. Lalu dalam hal lighting, ia berani memakai semacam lampu multi warna seperti lampu disko disamping lampu blencong tradisional. 
Dari sisi narasi, cerita yang diangkat oleh sang dalang Nardayana dapat digolongkan sebagai cerita carangan. Dalam wayang purwa yang bersumber pada wiracarita Mahabharata dan Ramayana, lalu ditambah dengan isu-isu sosial, kritik sosial, intrik politik dengan pesan-pesan yang sangat mengedukasi penonton. Wayang ini memang cerdas dalam meracik unsur tradisional dari wayang dengan perkembangan isu dan teknologi zaman sekarang.