Selasa, 21 Mei 2013

Cinta dalam Dunia Maya

Apakah cinta harus melalui sebuah perjumpaan nyata? Bisakah cinta hadir tanpa perjumpaan nyata? Lalu pernahkah kamu mencintai seseorang saat pertama kali bertemu? Mencintai orang yang belum pernah kamu temui secara nyata? Ya, kamu belum mengetahui wujud aslinya. Kamu hanya bisa menikmati senyumnya melalui benda dua dimensi bernama foto. Dan semua seakan sangat nyata.
Siapa yang sangka? Siapa yang bisa menerka? Ya, cinta memang suka merasuk diam-diam. Menembus hati dengan lembut nan merasuk. Hanya karena status beberapa baris di facebook atau beberapa karakter tweet di twitter, dan hanya karena maklhuk cerdas bernama jejaring sosial itu seseorang bisa jatuh cinta. Ya, bisa saja.
Cinta selalu datang dengan cara yang unik. Cinta kadang tak selalu hadir dalam tatapan mata. Cinta selalu punya cara untuk menyatukan dua orang. Cinta tak harus melalui perjumpaan nyata, bagi mereka yang jatuh cinta karena jejaring sosial.

Sabtu, 18 Mei 2013

Tidak Ada yang Salah dengan Kegagalan


Kegagalan, saya yakin 100%, semua orang pasti pernah mengalami kegagalan. Sekecil apa pun kegagalan itu, saya yakin kamu pasti pernah mengalami kegagalan. Tidak ada yang salah dengan kegagalan. Kalau saya sendiri sering gagal juga, ada banyak sekali kegagalan yang pernah saya alami.
Saya sempat kalah ketika lomba baca puisi saat SD. Saya pernah ditolak sama perempuan yang saya taksir sejak sekian lama ketika SMP. Saya juga sempat tidak diterima di sekolah yang saya inginkan ketika SMA, sehingga saya bingung mencari sekolah selulus saya SMP. Saya juga pernah tidak lulus salah satu mata kuliah ketika kuliah, sehingga harus mengulang di tahun berikutnya. Saya pernah gagal dalam menjalin sebuah hubungan yang sudah berlangsung selama beberapa tahun. Ada banyak lagi kegagalan yang pernah saya alami selain kegagalan yang sudah saya sebutkan tadi.
Apakah saya lalu sekarang hidup tidak bahagia dan larut dalam rasa mengeluh terus karena kegagalan-kegagalan yang saya alami? Tidak. Saya sadar bahwa ternyata ada dua pelajaran utama yang bisa saya ambil dari semua kegagalan yang pernah saya alami selama ini.

1.   Banyak hal baru yang kamu pelajari ketika kamu gagal atau banyak hal baru yang terpaksa harus kamu pelajari ketika kamu gagal
Pernahkah kamu mendengar atau membaca quotes yang menyatakan bahwa orang yang tidak pernah gagal tidak akan pernah nyoba hal baru? Ya, saya setuju dengan quote ini. Ketika saya kalah dalam lomba debat antar kelas di kampus saya, saya semakin penasaran dengan teknik debat. Akhirnya saya mencari tahu. Saya membaca buku tentang komunikasi, tentang debat. Saya terpaksa mempelajari hal-hal baru yang selama ini tidak saya lakukan dulu. Saya tidak  kebayang jika saya tidak gagal dalam hal, seberapa tidak bekembangnya saya hehehe….

2.   Kegagalan adalah kunci kesuksesan
Saya setuju dengan pendapat John C Maxwell di bukunya “The Difference Maker” bahwa “Failure doesn’t mean you’ll never succeed. It just means it will take longer”. Kegagalan tidak berarti kamu tidak akan pernah berhasil. Itu hanya berarti kamu akan memerlukan waktu lebih lama untuk mencapai sesuatu. Hal ini saya alami berkali kali, saya sering gagal. Namun, kegagalan itulah kemudian yang membuat saya banyak belajar hingga mencapai kata sukses menurut takaran saya.

Kamu hanya harus sabar menunggu lebih lama dan berusaha lebih giat untuk merubah kegagalan menjadi kesuksesan. Walaupun banyak sekali manfaatnya, tapi yang namanya gagal selalu tidak mengenakkan. Tapi, coba renungkan sekali lagi bahwa, apa yang membuat kamu seperti hari ini, bagaimana hebatnya kamu hari ini, seberapa banyak pujian yang dapatkan setelah kamu mengalami kegagalan berulang kali.
Jadi jangan takut gagal ya, karena gagal itu tidak salah sama sekali kok. Yang salah adalah jika kamu gagal dan tidak belajar apapun dan mengulangi kegagalan yang sama.

Jumat, 17 Mei 2013

Kritik Cerdas dari Nosstress


"Bali aku tinggal sebentar ya, aku mau ke Jogjakarta, aku mau nyanyi seperti biasanya. Bali aku pergi sebentar ya, pergi bahasa dari pantaimu yang katanya indah yang disekelilingnya berdiri hotel megah, wah."

doc Nosstress

Kalimat di atas adalah kutipan dari lagu yang berjudul “Ini Judulnya Belakangan”. Video lagu ini mulai diunggah beberapa hari sebelum pilgub. Nosstress menulis lagu ini, seperti yang diungkapkan mereka pada media, adalah untuk mengekspresikan harapan mereka untuk pemimpin baru di Bali.
Lagu ini sangat tepat didedikasikan untuk gubernur selanjutnya yang dipilih pada pilgub tahun ini, karena lagu ini menggambarkan keprihatinan mereka atas kondisi pulau Bali. Semoga pemimpin Bali berikutnya peka terhadap isu ini juga. Tiga hari sebelum pemilu, mereka akustik dan direkam oleh Hadhi Kusuma dan Ida Bagus Wibawa, sekitar Legian dan Kuta. Video lagu ini bisa kamu lihat di http://www.youtube.com/watch?v=rggsEuIQOD8&feature=youtu.be
Karya seperti ini sangat penting ketika kondisi pembangunan di Bali hampir tidak bisa dikendalikan seperti saat ini. Seperti yang kita tahu, kemacetan lalu lintas dan daerah hijau menyusut di Bali selatan. Video lagu cerdas Nosstress ini menerima tanggapan antusias dari anak-anak lokal. Tak terkecuali saya yang juga memiliki keprihatinan yang sama atas masa depan pulau ini. Jalan tol dan underpass, dua proyek besar yang diharapkan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas, mungkin bukan solusi jangka panjang karena pertumbuhan luar biasa dalam kendaraan. Pada saat yang sama, manajemen perencanaan tata ruang dan transportasi umum belum diprioritaskan.
Melihat video ini, saya makin menyadari, hendaknya mulai memerhatikan pemerataan pembangunan. Saat ini hanya penuh sesak selatan Bali dan wilayah lainnya yang terabaikan, serta pembangunan infrastruktur dan kebijakan transportasi umum. Semoga harapan ini didengar dan segera diambil tindakan oleh gubernur/wakil gubernur yang terpilih. Agar suara saya tidak rugi. Hehee

Rabu, 15 Mei 2013

Memilih adalah Pilihan

Hari ini seluruh masyarakat Bali yang memiliki hak pilih berhak menyumbangkan suara mereka untuk pilgub Bali tahun ini. Catatan saya, ya silahkan menggunakan hak suara dengan bijak. Beberapa hal yang ingin saya tulis terkait memilih dan pemilihan umum ini, saya rumuskan dalam 3 hal seperti di bawah ini.

Memilih (dalam pemilu) sebagai hak.
Menurut saya, memilih bagi pemilih adalah hak. Tidak boleh dipaksakan penggunaannya, ataupun dihilangkan dari pemilih. Saya tidak suka dipaksa memilih dan juga tidak suka hak memilih saya dihilangkan. Kalau kamu?

5 Menit Menentukan 5 Tahun
Menurut saya, itu hanya jargon menyesatkan untuk membujuk kita menggunakan hak pilih dan “mereka” memeroleh legitimasi kekuasaan. Waktu 5 menit yang kamu luangkan (belum termasuk antri) dalam menggunakan hak pilih anda tidak akan mengubah hidup anda 5 tahun kedepan. Hasil Pemilu atau Pilkada tidak akan berdampak langsung pada hidup masyarakat kecuali anda tim sukses atau peserta pemilu/pilkada.

Karena memilih adalah hak, boleh dong saya tidak menggunakan hak saya?
Menurut saya sih, SANGAT BOLEH!! Tapi tentu dengan dasar pertimbangan yang diyakini. Bukan karena malas, tidak mendapat ijin dari tempat bekerja, atau tidak terdaftar dalam daftar pemilih. Menggunakan atau tidak menggunakan hak memilih harus didasari kesadaran dan rasa tanggung jawab. Setiap pilihan tentu memiliki konsekuensi, kita sebagai pemilik hak harus mempertimbangkan setiap konsekuensi agar jangan sampai merugikan kepentingan kita dan masyarakat luas.

Kita butuh lebih dari 5 menit untuk memperbaiki keadaan. Jika kamu berharap hak pilih kamu bisa memperbaiki keadaan, tidak cukup hanya 5 menit. Butuh minimal menyisihkan 168 jam mempelajari rekam jejak, visi misi dan program kerja mereka yang meminta suara anda dalam pemilu/pilkada. Perlu minimal 900 jam mengawal janji-janji mereka pada saat kampanye dan tak kurang 9216 jam untuk mengawasi pelaksanaan program-program mereka. Itu pun jika kita mau meluangkan waktu dan mengambil peran dalam memperbaiki keadaan seperti pelayanan publik dan keterbukaan informasi publik. Jika akamu mau meluangkan waktu 5 menit dalam pemilu, saatnya kamu meluangkan waktu lebih mengawal proses demokrasi lainnya. Ini penting untuk demokrasi yang lebih demokratis.

Selasa, 14 Mei 2013

#thankyousiralex



Jose Mourinho kerap disebut sebagai “The Special One” karena mampu membawa 3 club berbeda meraih European League Championships namun Sir Alex Ferguson mungkin yang lebih tepat menjadi “The Only One” untuk rekor fantantis yang ia torehkan selama menjadi pelatih utama dan manager dari Manchester United.  Sir Alex memenangkan hampir 40 tropi termasuk 13 English Premier League title.  Sebuah rekor yang sangat amat sulit untuk dipecahkan di kemudian hari.
Sir Alex merupakan figur manager masa lalu yang sangat loyal, sementara Jose Mourinho merupakan manager masa kini yang kerap pindah di saat berada di puncak.  Dua-duanya figur yang saya kagumi.  Namun kali ini saya ingin menyoroti satu kunci utama Sir Alex Ferguson mampu mencetak rekor fantastis bersama Manchester United.
Salah satu rahasinya adalah semua pihak mendukung.  Manchester United bisa terus menjadi besar karena mereka terus mendukung Sir Alex Ferguson.  Dalam kejayaan maupun dalam beberapa kekalahan.  Bahkan dalam kekalahan 1-5 dari Mancehster City di tahun 1989 maupun yang terparah 1-6 di tahun 2011.  Semuanya mendukung Sir Alex.  Fans tetap mendukung, pemain tetap mendukung dan tentunya yang paling penting adalah klub tetap mendukung.
Sulit untuk membuat prestasi jangka panjang kalau tidak lagi didukung oleh semua pihak di dalam maupun luar klub. Tidak heran kalau MU lantas memberikan kontrak kepada David Moyes, salah satunya adalah loyalitas Moyes kepada Everton selama 11 tahun sejak tahun 2002.