Rabu, 13 April 2011

Tanpa Arah


Mau dibawa kemana sepakbola negara kita jika kisruh ini tak segera selesai? PSSI sebagai organisasi tertinggi telah menyulut berkobarnya revolusi yang diinginkan pencinta sepakbola tanah air. PSSI terlalu angkuh dengan kewenangannya. Nurdin dan antek-anteknya terlalu percaya diri dengan kekuasaannya.
Munculnya LPI sebagai simbol ketidakpuasan pencinta sepakbola negeri ini adalah awal perlawanan  kepada rezim gagal Nurdin. LPI yang saya rasa mempunyai itikad baik malah ditentang oleh PSSI. PSSI terlalu arogan. Harusnya PSSI belajar dari LPI mengenai pengelolaan liga secara professional dan tidak bergantung pada uang rakyat.
Seakan PSSI mendapat karma dari kearoganan mereka, kini merekapun dibekukan. Menpora tidak mengakui PSSI lagi. Pemerintah juga tidak lagi mengakui seluruh kompetisi/kegiatan olahraga dibawah kepengurusan PSSI pusat yang sekarang.
Nah, jika keadaan seperti ini, mana organisasi legal dalam persepakbolaan tanah air? Harusnya yang mengatakan cinta persepakbolaan Indonesia berjalan pada rel yang sama. Kita harus bersatu padu untuk memajukan olahraga terpopuler ini. Indonesia terlalu lama tertidur, bahkan kini terancam mati suri untuk waktu yang belum ditentukan.
Hilangkan kepenting pribadi sejenak. Jangan mau menang sendiri tanpa memikirkan masa depan sepakbola itu sendiri.

Selasa, 12 April 2011

Selamat Tinggal Bangunan Tua


Minggu (10/4) pagi kala mentari baru menampakkan diri, saat sinar redupnya menyiram hamparan, laut banyak remaja menyemut di tempat itu. Kaki-kaki menghentak pelan. Riuh rendah dialog sayup-sayup terdengar. Hantaman ombak sesekali memecah pagi yang masih hening. Manusia-manusia itu mendahului pagi. Tempat ini memang biasa digunakan sebagai lokasi jogging oleh masyarakat saat hari libur, seperti hari minggu ini. Jika sore tiba, tempat ini akan diserbu pelancong baik yang tua maupun muda serta para “pemburu” ikan.
Aroma jajanan mulai tercium saat mentari menenggelamkan diri di ufuk barat. Kekhasan sate kakul, mengundang pengunjung untuk mampir. Lapak-lapak pedagang pun semakin ramai berdiri. Semakin malam, pengunjung semakin banyak.
Bagi Buleleng, tempat ini adalah serpihan sejarah di masa lampau. “Pelabuhan Buleleng merekam kejayaan kerajaan Buleleng”, kata seorang bapak yang saya temui di lokasi. “Sejarah kebesaran Buleleng tercermin di bangunan tua ini”, lanjutnya. Pelabuhan Buleleng di Kabupaten Singaraja sebagai pintu utama Bali sejak masa pendudukan Belanda hingga menjadi ibu kota Provinsi Sunda Kecil, periode tahun 1950-1958.

Jika di eks Pelabuhan Buleleng akan dibangun gedung konvensi, bagaimana nasib deretan bangunan tua di sisi timur pelabuhan itu? Inilah yang menjadi dilema saat ini. Karena gedung konvensi bertaraf internasional yang beranggaran 3,5 miliar akan dibangun di areal bekas bangunan tua peninggalan Belanda itu. Sejumlah warga menyayangkan pembongkaran itu, mengingat keberadaannya bisa menjadi pendukung kawasan wisata Kota Singaraja. Menyikapi hal itu, Bupati Bagiada bingung.
“Ada yang berpandangan bangunan tua itu harus dipertahankan. Ada yang bilang itu hanya gudang rusak yang berbahaya dan harus dibongkar,” katanya di suatu kesempatan. Pembongkaran bangunan saksi bisu perjalanan Buleleng sebagai ibukota Sunda Kecil dan berbagai peristiwa heriok perjuangan Bangsa Indonesia itu juga didasari dengan kondisi bangunan yang tidak terawat dan tidak masuk dalam kawasan dilindungi (heterage).

Kamis, 20 Januari 2011

Hadiah Terbaik

Rahangnya yang kaku dan keras bergerak naik turun saat mengunyah gulai ayam masakan Ibu. Rambut ikalnya mengkilat oleh minyak rambut dan rapi disisir kebelakang, dia Ayahku . Ibu dengan rambut panjang yang digulung membentuk sanggul, terlihat santai dan sesekali melerai kedua kakak perempuanku yang sedang bersitegang tentang gulai ayam. Kakak perempuanku kembar indentik, tak jarang kami salah menyebut namanya. Mereka bisa mempermasalahkan hal yang menurut kami sederhana, semisal telur mata sapi. Mereka akan protes kalau menemukan kuning telurnya berada di pinggir bukan di tengah!. Mereka tak akan memakannya. Mau tak mau Ibu harus mengulang beberapa kali, sampai kuning telurnya berada di tengah. Aku sendiri adalah si bungsu. Aku punya garis wajah yang tegas, aku punya rambut ikal, aku punya mata setajam elang, seperti punya ayah. Aku sangat mirip dengan Ayah.
Hari itu ulang tahunku yang ke tujuh. Aku mendapat keistimewaan menjadi yang pertama mencicipi gulai ayam, mengambil bagian yang paling aku suka. Doa dan harapan terbaik dipanjatkan untukku, tak lupa dengan hadiahnya.
Beberapa kali aku mendapati kedua kakak perempuanku melirik sambil tersenyum aneh. Aku hanya bisa memandang sinis ke arah mereka. Sepertinya mereka merencanakan sesuatu. Mereka sedikit jahil. Mereka pernah memasukkan kodok ke dalam tas sekolahku. Aku ingat sekali itu, aku melompat ke atas meja dan melempar tasku jauh.
-
Meja makan sudah rapi, kedua kakak perempuanku sudah mengangkat piring – piring kotor ke dapur. Tinggal aku dan Ibu yang masih duduk sambil bercerita tentang hari ulang tahunnya yang tak pernah ada perayaan, bahkan makanan enak. ‘Bersyukur atas apa yang kita miliki sekarang, berjuang untuk esok yang lebih baik lagi. Itu yang terutama’ pesan Ibu sambil meraih tanganku memakaikan sebuah jam tangan yang bisa bersinar ditempat yang gelap. ‘Selamat ulangtahun Nak’ bisik Ibu di telingaku saat tubuhku dalam dekapan hangatnya.
Kedua kakak perempuanku, bersamaan memberikan sebuah buku bergambar pesawat terbang, “Selamat ulang tahun!”.
Aku punya cita – cita menjadi pilot. Aku ingin terbang mengelilingi Indonesia. Aku ingin menjadi pilot yang membawa Ayah, Ibu, dan kedua Kakak perempuanku menikmati indahnya pantai Kuta, dan tempat wisata lainnya yang tanah airku punya.
Maka dari itu, aku berharap hadiah dari Ayah adalah sebuah miniatur pesawat. Aku sudah mengutarakannya beberapa hari yang lalu. Aku ingin hadiah sebuah miniatur pesawat. Tapi aku tak melihat Ayah selepas makan siang, aku tak melihat tanda – tanda Ayah akan memberikan hadiah, bahkan ucapan selamat ulang tahun pun belum aku dengar darinya.
-
Aku tertidur menunggu sebuah miniatur pesawat, dan terbangun mendengar pintu kamarku diketuk. Kudapati Ayah berdiri memegang sebuah bibit pohon - entah pohon apa aku tidak tahu – pada polybag hitam. ‘Selamat ulang tahun Nak’ katanya sambil menyerahkan bibit pohon itu. Tidak ada miniatur pesawat!. Hadiah ulangtahunku hanyalah bibit pohon!.
Kuletakkan bibit pohon itu di sudut kamarku, persis di samping meja belajarku. Sudah seminggu sejak hari ulang tahunku, aku membiarkan bibit pohon itu begitu saja. Beberapa helai daunnya sudah mulai menguning, gugur, dan batangnya yang masih kurus itu mengerut kekurangan air. Aku membiarkannya begitu saja, sampai Ayah memberi penjelasan itu bibit pohon apa? Kenapa bibit pohon? Kenapa tidak miniatur pesawat seperti yang aku minta!.
Sepertinya tidak akan ada penjelasan tentang bibit pohon itu. Dan aku pun tak sampai hati membiarkan pohon itu mati kekeringan, kusingkirkan egoku, aku menghampiri ayah di suatu sore yang berangin, meminta bantuannya menanam bibit pohon itu di halaman rumah.
-
Pagi sebelum ke sekolah aku menyiramnya dan sore setelah matahari terbenam, begitu seterusnya. Belakangan aku tahu itu adalah pohon mangga, setelah kusobek daunnya dan kudekatkan pada hidungku.
Seiring berjalannya waktu, aku menyadari aku sangat menyayangi pohon mangga itu, aku sering duduk berdampingan dengannya setelah aku menyiramnya. Kadang aku bercerita tentang Ayah, Ibu, dan Kakakku si kembar. Beberapa kali juga aku mendapati tanahnya sudah bertabur kotoran ayam saat aku lupa memberikan pupuk.
Tahun kelima, pohon manggaku berbuah. Hanya ada sepuluh buah, masa berbuah yang akan datang buahnya pasti lebih dari itu kata Ayah. Kami menikmati buahnya selepas makan siang. Ada rasa bangga dan malu memakannya. Mengingat aku sangat kecewa dan menelantarkannya hampir seminggu lebih.
Tahun kesepuluh. Masa musim buah, kami memanen hampir lima karung buah mangga. Aku membagikannya kepada semua tetangga dan teman sekolahku. ‘Pohon manggaku berbuah’ begitu kataku saat membagikannya. Selebihnya Ayah menawarkan seorang petani upahan yang menempati rumah berdinding anyaman bambu untuk menjualnya di pasar. ‘Masih ada masa panen berikutnya’ begitu kata Ayah saat aku menanyakan uang hasil penjualan buah manggaku. Petani itu menitikkan airmata saat Ayah memberikan semua hasil penjualan buah manggaku kepadanya. Buah manggaku terjual habis.
-
Tahun ke lima belas. Pohon mangga itu telah membuatku jatuh cinta dengan kehijauan dan kesegaran yang dibagikannya. Aku ingin mempelajari mereka dan melestarikannya.
Sebuah foto diambil bersama Ayah, Ibu, dan Kakakku si Kembar dengan latar pohon manggaku. Hari itu aku dan Ayah bersandar pada batang pohon manggaku, menghabiskan sore dengan cerita tentang perjuanganku menyelesaikan skripsi hingga aku menyandang gelar S.Hut.
-
Baru dua hari aku berada di perantauan, aku harus segera pulang.
Secepatnya!.
Ibu tersenyum menyambutku. Tangannya yang sudah keriput membimbingku pada tubuh yang terbujur kaku pada dipan kayu. Ayah terkena serangan jantung, dan meninggal tak lama setelah mendapatkan perawatan dari medis.
Aku duduk menyandarkan punggung pada pohon manggaku. Empat puluh hari sudah sejak kepergian Ayah, semua kenangan melintas saat bersama Ayah tanpa kupinta. Aku sangat merindukannya. Kedua kakak perempuanku datang dan duduk diam bersama dalam kerinduan.
Pohon mangga itu, hadiah terindah dan terbaik dari Ayah. Pohon itu satu bentuk yang akan hidup untuk puluhan tahun kedepan, yang akan selalu mengingatkanku pada Ayah dan juga sebagai warisan yang hidup untuk cucunya.
-
Tahun ke- 32
Aku merasakan pundakku diusap pelan oleh wanita hebat yang telah melahirkan jagoan kecilku. Pandangan kami terpaku pada tubuh kecil yang tertidur nyenyak dalam pelukan Neneknya. Dua buah kursi panjang di bawah pohon mangga itu jadi tempat terbaik untuk bersantai.
-
Sekarang jagoan kecilku punya tugas setiap pagi dan sore hari, menyiram pohon akasia yang berada di sudut taman rumah. Pohon akasia itu sekarang berumur tujuh tahun, seumur dengan jagoan kecilku. Dia kelihatan bangga sekali dengan pohon itu, terlebih saat kuceritakan kisah pohon mangga yang sampai sekarang masih berdiri kokoh di depan rumah neneknya. Pernah dia dengan sangat bangga memperkenalkan pohon itu kepada teman sekelasnya.
“Ini pohonku, mana pohonmu?”

Sabtu, 25 Desember 2010

Iptek dan Kehidupan Manusia


Hubungan antara ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang melalui tahapan-tahapan hingga berada pada fase seperti sekarang ini. Tahap pertama ialah apa yang dikenal dengan revolusi industri. Tahap kedua adalah pemaksimalan pengembangan teknologi yang telah ada. Ketiga, tahap teknologi modern (Arnyana, 2005:91).
Seperti yang kita ketahui, teknologi kini telah merembes dalam kehidupan kebanyakan manusia bahkan dari kalangan atas hingga menengah kebawah sekalipun. Dimana upaya tersebut merupakan cara atau jalan di dalam mewujudkan kesejahteraan dan peningkatan harkat martabat manusia. Untuk mendayagunakan iptek diperlukan nilai-nilai luhur agar dapat dipertanggungjawabkan.
Disamping itu, perkembangan iptek bisa bermanfaat untuk kemajuan hidup manusia dan juga dapat memberikan dampak negatif. Maka, dalam perkembangan iptek, ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan iptek untuk menekan dampak negatif  iptek seminimal mungkin.
Atas dasar kreatifitas akalnya, manusia mengembangkan iptek dalam rangka untuk mengolah SDA yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Di mana dalam pengembangan iptek harus didasarkan terhadap moral dan kemanusiaan yang adil dan beradab, agar semua masyarakat mengecam  iptek secara merata. Begitu juga diharapkan SDM nya bisa lebih baik lagi, apalagi banyak kemudahan yang kita dapatkan.
Namun, berbanding terbalik dengan realita yang ada karena semakin canggih perkembangan teknologi, telah membuat masyarakat menjadi malas yang disebabkan oleh kemudahan-kemudahan yang ada tersebut.ambil saja salah satu contoh perkembangan iptek dibidang telekomunikasi dimana zaman dahulu handphone itu sangat langka karena harganya yang mahal berbeda dengan sekarang harga handphone sudah sangat murah dan menjangkau lapisan menengah ke bawah.
Disatu sisi telah terjadi perkembangan yang sangat baik sekali di aspek telekomunikasi, namun pelaksanaan pembangunan iptek masih belum merata (Perpustakaan Online Bloger Indonesia, 2011). Masih banyak masyarakat kurang mampu yang putus harapannya untuk mendapatkan pengetahuan dan teknologi tersebut.hal itu dikarenakan tingginya biaya pendidikan yang harus mereka tanggung, maka dari itu pemerintah perlu menyikapi dan menanggapi masalah-masalah tersebut, agar peranan iptek dapat bertujuan untuk meningkatkan sumber daya manusia yang ada.
Kalaupun teknologi mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti teknologi sinonim dengan kebenaran. Sebab iptek hanya mampu menampilkan kenyataan . Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan (Asis Gande, 2009). Tentu saja iptek tidak mengenal moral kemanusiaan, oleh karena iptek tidak pernah bisa menjadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah manusia. 

Dari ilustrasi di atas bisa kita simpulkan bahwa iptek sangat penting bagi manusia.  Hal ini disebabkan  karena, keterkaitan iptek dalam kehidupan manusia sangat erat dan saling timbal balik.

Jumat, 26 November 2010

DUA PEKERJAAN RUMAH PSSI


Saya tersenyum ketika mengetahui ada buku berjudul Dosa-dosa Nurdin Halid yang dikarang penulis bernama Erwiyantoro. Separah itukah ketua umum organisasi sepak bola tertinggi negeri ini? Jika begitu, mengapa masih saja terjadi kisruh di tubuh PSSI? Mengapa masih diteruskan carut marut sepak bola tanah air? Jika sudah salah mengapa tidak diperbaiki?
Fair play adalah embrio sepak bola. Hendaknya semua orang yang terlibat dalam olahraga terpopuler di dunia ini memiliki sikap fair play ini. Bisa dimaafkan jika sebuah kesalahan dilakukan tidak sengaja. Tapi jika selalu membuat kesalahan? Wajib dikartu merah ataupun diskorsing!
Negara kita (katanya) menjunjung tinggi demokrasi. Rakyat adalah kuncinya. Tapi mengapa organisasi sepak bola tertinggi negeri ini seakan tutup mata dengan dua hal di atas? Fair play dan demokrasi.
Inikah demokrasi versi PSSI? Mungkin. Karena ini memang khusus demokrasi para punggawa PSSI saja. Bukan musyawarah yang melibatkan rakyat. Buktinya PSSI tidak pernah mendengar aspirasi rakyat. Itu masalah pertama. Sudah banyak kritik-kritik pedas yang tergores di media-media cetak baik media olahraga maupun media non olahraga. FIFA sebagai organisasi tertinggi sepak bola di kolong jagad tak digubris. Kasus PSSI sudah parah. Orang-orang di dalamnya masih menutup mata.
Masalah lain, sosialisasi PSSI sangat kurang terkait pembagian hak suara. Jangan salahkan kericuhan Kongres PSSI yang digelar di Hotel The Premier, Pekanbaru kemarin. Saya rasa PSSI perlu memperhatikan dua aspek di atas dalam bekerja. Jika tidak, saya yakin teman-teman pencinta sepak bola tetap mengajukan protes. Jangan salahkan kami nantinya, karena kami hanya ingin perbaikan di tubuh PSSI dan kebangkitan Macan Asia.

Kamis, 11 November 2010

Analisis Wacana Kritis


Apa itu berita? Apakah berita hanya mengandung fakta? Siapa saja yang diuntungkan dalam pemberitaan sebuah berita? Apakah mungkin ada kepentingan “lain” di balik sebuah berita? Beberapa pertanyaan inilah yang mendasari penulisan analisis kecil ini.
Media Massa (Mass Media) adalah chanel, media/medium, saluran, sarana, atau alat yang dipergunakan dalam proses komunikasi massa, yakni komunikasi yang diarahkan kepada orang banyak (channel of mass communication). Komunikasi massa sendiri merupakan kependekan dari komunikasi melalui media massa (communicate with media).
Pesatnya kemajuan media informasi dewasa ini cukup memberikan kemajuan yang signifikan. Media cetak maupun elektronik pun saling bersaing kecepatan sehingga tidak ayal bila si pemburu berita dituntut kreativitasnya dalam penyampaian informasi (Kristina, 2007). Akibatnya, media informasi pun dalam hal ini media massa mengalami perkembangan. Pada zaman ini yang termasuk media massa utama adalah suratkabar, majalah, radio, televisi, dan film sebagai The Big Five of Mass Media (Lima Besar Media Massa), juga internet (cybermedia, media online).
Jenis media yang disebut terakhir termasuk pada media massa modern. Hal ini disebabkan oleh perkembangan teknologi dan sosial budaya yang sangat pesat, hingga media SMS (Short Message Service) dan telephone seluler pun menjadi media massa zaman ini (Romli, 2009). Hal ini sah-sah saja karena salah satu dari ciri media massa adalah menjadi perantara dan mengirim informasinya melalui saluran tertentu.
Walau pun sudah jamak media massa modern, media massa tradisoanal tetap hidup. Media massa tradisional seperti surat kabar, majalah, radio, televisi, film (layar lebar) bahkan semakin berkembang. Ini tidak lepas dari pengaruh media bagi masyarakat. Pengaruh media bisa ditelusuri dari fungsi komunikasi massa, Harold Laswell pada artikel klasiknya tahun 1948 mengemukakan model sederhana yang sering dikutip untuk model komunikasi hingga sekarang, yaitu siapa (who), pesannya apa (says what), saluran yang digunakan (in what channel), kepada siapa (to whom), dan apa dampaknya (with what effect). Ini terbukti, surat kabar (Koran) tetap menjadi pilihan utama, walau pun sudah banyak media massa dengan format online yang bisa diunduh gratis. Tapi bagi saya, mungkin banyak orang di luar sana memiliki pendapat dengan saya, bahwa membaca produk cetak lebih merupakan sebuah penikmatan pada karya seni.
Maka dari itu, penulis pun berhipotesis bahwa, media cetak seperti koran tak akan pernah mati. Bahkan “mereka” akan terus berkembang. Ini akan terjadi jika penulis penikmat media menikmatinya seperti menikmati seni. Seni tak akan terganti, bagaimana pun wujudnya. Karena seni tidak ada baik dan buruk. Seni punya pesan dan energy, atau apa pun itu. Tafsiran dan pemaknaan atas Koran biarlah di wilayah otoritas pembacanya.
Perkembangan media di Bali cukup menarik untuk ditelusuri. Menurut Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) tentang peta media di Bali, perkembangan media di Bali diawali pada zaman kolonial Belanda yang memiliki topik hangat tentang kasta, hingga lahirnya Shanti Adnyana dalam bentuk kalawarta (newsletter) pada 1923. Produk ini tidak bertahan lama, karena perpecahan intern hingga akhirnya berhenti terbit. Shanti Adnyana kemudian berubah nama jadi Bali Adnyana yang berarti Pikiran Bali sejak 1 Januari 1924. Majalah ini terbit tiga kali sebulan yaitu tiap tanggal 1, 10, dan 20. Pengasuhnya I Gusti Tjakratanaya dan I Gusti Ketut Putra. Ketut Nasa dan kawan-kawannya sesama jaba kemudian mendirikan Surya Kanta sebagai tandingan Bali Adnyana pada 1 Oktober 1925.
Perkembangan media di Bali melewati banyak peristiwa penting negeri ini. Setelah masa kolonial Belanda, media Bali (khusnya cetak) masih terus berkembang, walau belum menemukan konsistensi karena situasi negeri yang masih labil. Hingga Maret 2007, koran harian yang masih terbit di Bali adalah Bali Post, Denpost, BisnisBali, NusaBali, Radar Bali, Warta Bali, Fajar Bali, dan Patroli Post. Selain itu ada majalah bulanan Sarad dan Raditya yang lebih banyak menulis masalah agama Hindu dan adat Bali (LSPP, 2007).
Dari sebuah perlawanan, kini media bisa menjadi ajang promosi diri oleh siapa pun. Lebih-lebih Bali Post, sebuah rintisan Ketut Nadha, kerap menjadi ajang pencitraan diri, organisasi maupun instansi. Hingga hadirlah secara khusus rubrik Seremonial pada halaman 7 dan 8. Lebih dalam lagi jika melihat dari konstruksi kalimat yang digunakan dalam artikel-artikel pencitraan diri, maupun artikel lain pada umumnya, di Bali Post akan kita temukan banyak “kepentingan” di sana. Seakan-akan, fungsi media pada zaman ini telah sedikit bergeser. Pun kepentingan yang dianut si media. Bahkan sebuah media massa zaman ini sering “menghakimi” aktor berita.
Penganjur paradigma kritisisme menilai bahwa baik paradigma positivism maupun paradigma interpretivisme tidak peka terhadap proses produksi dan reproduksi makna. Kedua paradigma tersebut mengabaikan kehadiran unsur kekuasaan dan kepentingan dalam setiap praktik berwacana. Karena itu, alih-alih mengkaji ketepatan tatabahasa menurut tradisi positivisme atau proses penafsiran sebagaimana tradisi interpretivisme, paradigma kritisisme justru memberi bobot lebih besar terhadap pengaruh kehadiran kepentingan dan jejaring kekuasaan dalam proses produksi dan reproduksi makna suatu wacana. Baik sebagai subjek maupun objek praktik wacana, individu tidak terbebas dari kepentingan ideologik dan jejaring kekuasaan.
Meskipun ada banyak ranting aliran (variance) dalam paradigma ini, semuanya memandang bahwa bahasa bukan merupakan medium yang netral dari ideologi, kepentingan dan jejaring kekuasaan. Karena itu, analisis wacana kritis perlu dikembangkan dan digunakan sebagai piranti untuk membongkar kepentingan, ideologi, dan praktik kuasa dalam kegiatan berbahasa dan berwacana. Dua di antara sejumlah ranting aliran analisis wacana kritis yang belakangan sangat dikenal adalah buah karya Norman Fairclough dan Teun van Dijk (Eriyanto, 2001). Dibanding sejumlah karya lain, buah pikiran van Dijk dinilai lebih jernih dalam merinci struktur, komponen dan unsur-unsur wacana. Karena itu, model analisis wacana kritis ini pula terkesan mendapat tempat tersendiri di kalangan analis wacana kritis.

Minggu, 17 Oktober 2010

Hubungan Ilmu dan Filsafat


Filsafat dikatakan sebagai induk ilmu pengetahuan (mater scientiarium) karena ilmu yang paling pertama kali muncul. Objek kajian filsafat ialah seluruh kenyataan. Padahal sebagai sebuah ilmu, filsafat harusnya mempunyai objek material khusus. Inilah yang menyebabkan ilmu terpisah dengan filsafat. Walau terpisah, hubungan filsafat dengan ilmu tidak terputus.
Adanya ciri khusus yang menjadi pemisah antar ilmu menimbulkan batas-batas tegas tiap ilmu. Di sinilah filsafat berusaha menyatupadukan masing-masing ilmu. Tugas filsafat adalah mengatasi spesialisasi dan merumuskan suatu pandangan hidup yang didasarkan atas pengalaman kemanusiaan yang luas. Oleh  Karena itu, filsafat merupakan salah satu bagian proses pendidikan secara ilmiah dari mahluk yang berpikir.
Ada hubungan timbal balik antara ilmu dengan filsafat. Hal ini disebabkan banyak masalah filsafat yang memerlukan landasan ilmiah dalam menelaahnya. Sedangkan ilmu menyediakan bahan-bahan yang berupa fakta-fakta yang sangat penting bagi perkembangan ide-ide filsafati yang tepat sehingga sejalan dengan pengetahuan ilmiah.
Terhadap ilmu-ilmu khusus, filsafat (filsafat ilmu) secara kritis menganalisis konsep-konsep dasar dan memeriksa asumsi-asumsi dari ilmu dan memperoleh arti dan validitasnya. Apabila tidak diikuti proses di atas, maka hasil-hasil yang dicapai ilmu tersebut tidak memperoleh alasan kuat. Sehingga pada akhirnya, filsafat juga memegang peranan penting dalam membedakan bats-batas ilmu khusus yang semakin sempit.
Tiga Landasan Penelaahan Ilmu
1.      Ontologi ilmu (apa hakikat ilmu) menggarap apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah yang tidak terlepas dari persepsi filsafati tentang apa dan bagaimana ada itu.
2.      Epistemology ilmu, melliputi sumber, saran dan tata cara menggunakan saranan tersebut untuk mencapai pengetahuan ilmiah.
3.      Aksiologi ilmu, meliputi nilai-nilai (value) yang bersifat normative dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, simbolik, ataupun fisik material.
Dalam perkembangan filsafat ilmu yang mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu menyangkut etik dan heuristik. Ada tiga macam pendapat mengenai strategi pengembangan ilmu. Pertama, ilmu berkembangan dalam otonomi dan tertutup. Kedua, ilmu lebur dalam konteks. Ketiga, ilmu dan kontek saling meresapi dan saling memberi pengaruh.