Kamis, 12 Mei 2011

ADU KEPENTINGAN


Bali sebagai salah satu tempat pariwisata dunia memang bernadi pada pariwisata. Semua aspek pariwisata yang ada di Bali berlomba-lomba memberi pelayanan terbaik. Fasilitas penunjang pariwisata menjamur dan sudah menjadi penghidupan bukan saja masyarakat Bali, bahkan masyarakat pendatang yang mencari penghidupan di Bali. Persaingan pun mulai terjadi.
Demi kepentingan masing-masing pihak, terkadang cara-cara illegal menjadi halal bagi mereka. Maraknya pemberitaan fasilitas-fasilitas pariwisata bodong di Bali adalah kenyataan yang sudah ada di depan mata. Mengapa mereka berani beroperasi tanpa izin, yang jelas-jelas melanggar hukum? Kepentingan adalah jawabannya.
Masyarakat Bali ataupun para investor yang menanam modal di Bali hanya melihat pariwisata sebagai tambang emas mereka. Di sisi lain, fasilitas pariwisata sudah banyak dan akan bertambah banyak seiring waktu. Untuk ikut bersaing di dalamnya, jamak dari mereka mengambil jalan bodong. Itu pilihan.
Yang perlu disoroti sekarang adalah, mengapa praktik bodong seperti ini bisa terus berjalan mulus? Padahal Pemprov Bali maupun kabupaten/kota di Bali sebenarnya memiliki kekuatan hukum untuk menertibkan fasilitas-fasilitas bodong tersebut. Saya curiga ada suap menyuap yang melibatkan orang kuat demi lancarnya fasilitas-fasilitas tanpa ijin ini. Jika sudah begini, saya rasa susah. Karena lagi-lagi kepentingan yang akan berbicara.
Apa pun kepentingannya, jika kondisi penunjang pariwisata di Bali seperti itu (banyak bodong), takutnya akan berpengaruh pada citra pariwisata Bali. Dan akhirnya, kita semua yang akan menanggung akibatnya. Mari kita kesampingkan kepentingan pribadi. Utamakan kepentingan bersama (pariwisata Bali).

teror UN

Menjadi salah saat ujian nasional (UN) digunakan sebagai vonis kelulusan siswa. Ujian tertulis yang dilangsungkan hanya beberapa hari sangat tidak relevan untuk memutuskan kelulusan siswa yang sudah mengenyam pendidikan bertahun-tahun. Hanya menggunaka kognitif untuk menentukan kelulusan adalah hal yang absurd. Lalu dikemanakan aspek lain, afektif dan psikomotornya? Mencontek dikaitkan dengan kejujuran. Memang benar mencontek adalah perbuatan salah. Tapi ketika dikaitkan dengan ujian nasional, mencontek adalah perbuatan yang halal. Jangan salahkan pandangan ini, karena sistem pendidikanlah yang mengkehendakinya. Sistem pendidikan yang hanya menjadi terror bagi pelaku pendidikan ini belumlah seperti yang diharapkan banyak pihak. Mengapa teror? Karena setiap mendekati ujian nasional semua pihak, baik guru, siswa, orang tua siswa bahkan para pejabat, yang sebaiknya tidak ikut campur menjadi gundah gulana. Mereka berpikir keras agar bisa melewati teror ini. Benar tidaknya, bisa diperdebatkan. Ujian nasional (UN) sudah menjadi target terpenting dari pendidikan. Kecemasan kolektif pun terjadi tiap tahun. Guru, kepala sekolah, siswa, orang tua siswa, dinas pendidikan takut akan hasil jeblok ujian nasional. Semua menjadi tegang. Mereka memikirkan segala cara agar ujian nasional menjadi sukses. Tapi sayang cara yang ditempuh jamak yang haram. Tapi akan menjadi halal saat ujian nasional berlangsung. Bagi sekolah, kelulusan adalah pencitraan sekolah. Hal ini akan berdampak pada peminat yang melamar sekolah itu di tahun berikutnya. Sekolah sangat berkepentingan dengan jumlah siswa. Makin tinggi jumlah siswa, makin sejahtera sekolah itu dan tentu saja guru-gurunya. Tidak jarang dalam perekrutan siswa ini dicampuri oleh nepotisme gila-gilaan yang dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab. Akhirnya, suap-menyuap pun mewarnai. Kembali kepada kelulusan. Kelulusan adalah prestasi yang dilahirkan sekolah itu, setidaknya itulah yang ada di benak orang tua siswa. Makanya sekolah akan mati-matian membuat prestasi kelulusan 100%. Bagi siswa dan tentunya orang tua siswa adalah sebuah keberhasilan bisa lulus. Tidak lulus akan menimbulkan dua hal yang sangat merugikan. Tidak lulus sama dengan mengulang, jika hal ini terjadi tentu akan menambah biaya pendidikan. Tidak lulus juga berarti siap menanggung malu. Inilah yang sangat dihindari, sehingga lulus adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi. Bagi para pejabat di lingkungan dinas pendidikan setempat, kelulusan berarti naik jabatan. Kelulusan juga berarti bahwa mereka sudah bekerja dengan benar. dalam situasi seperti itu maka mereka sekuat tenaga akan menggenjot prestasi siswa. Sayangnya, cara yang digunakan salah. Tidak salah sih, tapi sistem pendidikan yang kadung salah. Ketidakjujuran menjadi pembenaran dalam hal ini. Dan dalam kasus Siami, ia adalah penggugat sistem pendidikan kita.

Sabtu, 16 April 2011

Mampu Menyatukan Indonesia


PSSI adalah milik pencinta sepak bola seluruh Indonesia, maka hendaknyalah ketua umum PSSI bisa memberikan keadilan terhadap pencinta sepak bola tanah air. Bukannya mementingkan kelompok dan mensejahterakan diri sendiri. Pun kecintaan terhadap sepak bola tanah air yang diumbar ketua umum PSSI tak hanya di bibir saja. Janji yang diberikan saat menjadi calon segera direalisasikan. Jangan sampai janji itu abadi menjadi janji.
Masyarakat Indonesia ingin melihat timnas Garuda terbang tinggi lagi. Klub-klub berlabel professional Indonesia dituntut bebas dana APBD. Terpenting, sepak bola Indonesia tak terpecah belah lagi. Ketua umum PSSI yang baru hendaknya memperhatikan beberapa hal di atas. Ini PR untuk Anda sekaligus harapan sepak bola merah putih. Harapan Indonesia, adalah harapan dari Sabang sampai Merauke. Bukan hanya untuk kepentingan Senayan.
Berjiwa besar dan bisa menerima “kekalahan” serta bersedia mundur jika gagal adalah harapan lain dari saya kepada ketua PSSI yang akan datang. Jangan ngotot jika salah! Saya tak magsud menyindir siapa pun, tapi hendaknya kita bisa belajar dari pengalaman yang terlah terjadi. Seperti permainan sepak bola yang menjunjung fair play, pun dengan ketua PSSI yang baru. Sifat fair play semoga tumbuh lagi di PSSI. Saya sangat berharap ketua umum PSSI yang baru bisa mendengar semua suara hati para pencinta bola. Lalu merealisasikan yang terbaik bagi sepak bola Indonesia.

Jumat, 15 April 2011

ISL dan LPI Sulit Disatukan


Berubahnya status LPI menjadi legal menimbulkan masalah baru. Komite Normalisasi seakan melupakan bahwa FIFA melarang adanya dua kompetisi dalam satu kasta yang sama. LPI dan ISL mempunyai derajat yang sama.
Walau LPI mengaku pantas berada di atas ISL yang masih menyusu pada uang rakyat, itu masih belum bisa diterima oleh semua pihak. ISL tetaplah kompetisi tertinggi Indonesia, dan klub-klub yang berkompetisi di sana adalah klub yang sejak lama berkompetisi. Sebaliknya, jika LPI diletakkan di bawah ISL, pasti sangat ditentang oleh pihak LPI.
Bila LPI dan ISL digabung dalam satu wadah liga, tentu akan sangat gemuk. FIFA menetapkan sebuah kompetisi hanya boleh diikuti maksimat 20 klub. Mungkin ini bisa dilakukan, tapi bagaimana sistem penentuan ke 20 klub yang berhak berada di kasta tertinggi kompetisi Indonesia? Selanjutnya, bagaimana dengan sisa klub yang tak lolos itu? Di tingkatan mana mereka di taruh?
Jika mereka ditaruh di bawah liga tertinggi, maka akan terjadi kecemburuan bahkan kekacauan  pada klub-klub di liga dibawah. Perjalanan mereka menuju kasta tertinggi akan semakin jauh. Menurut saya, yang paling tidak bisa diterima adalah karena penambahan ini secara tiba-tiba. Penyatuan dua kompetisi di atas pasti akan berimbas pada klub-klub di kompetisi rendah lain yang sudah ada seperti Divisi Utama, Divisi Satu, dan Divisi Dua.
Pertu sistem dan regulasi yang tepat untuk menyatukan kedua kompetisi itu. semua klub, dan pihak terkait hendaknya duduk bersama demi kemajuan sepak bola kita, dalam hal ini terkait run away leagua ini.

Rabu, 13 April 2011

Tanpa Arah


Mau dibawa kemana sepakbola negara kita jika kisruh ini tak segera selesai? PSSI sebagai organisasi tertinggi telah menyulut berkobarnya revolusi yang diinginkan pencinta sepakbola tanah air. PSSI terlalu angkuh dengan kewenangannya. Nurdin dan antek-anteknya terlalu percaya diri dengan kekuasaannya.
Munculnya LPI sebagai simbol ketidakpuasan pencinta sepakbola negeri ini adalah awal perlawanan  kepada rezim gagal Nurdin. LPI yang saya rasa mempunyai itikad baik malah ditentang oleh PSSI. PSSI terlalu arogan. Harusnya PSSI belajar dari LPI mengenai pengelolaan liga secara professional dan tidak bergantung pada uang rakyat.
Seakan PSSI mendapat karma dari kearoganan mereka, kini merekapun dibekukan. Menpora tidak mengakui PSSI lagi. Pemerintah juga tidak lagi mengakui seluruh kompetisi/kegiatan olahraga dibawah kepengurusan PSSI pusat yang sekarang.
Nah, jika keadaan seperti ini, mana organisasi legal dalam persepakbolaan tanah air? Harusnya yang mengatakan cinta persepakbolaan Indonesia berjalan pada rel yang sama. Kita harus bersatu padu untuk memajukan olahraga terpopuler ini. Indonesia terlalu lama tertidur, bahkan kini terancam mati suri untuk waktu yang belum ditentukan.
Hilangkan kepenting pribadi sejenak. Jangan mau menang sendiri tanpa memikirkan masa depan sepakbola itu sendiri.

Selasa, 12 April 2011

Selamat Tinggal Bangunan Tua


Minggu (10/4) pagi kala mentari baru menampakkan diri, saat sinar redupnya menyiram hamparan, laut banyak remaja menyemut di tempat itu. Kaki-kaki menghentak pelan. Riuh rendah dialog sayup-sayup terdengar. Hantaman ombak sesekali memecah pagi yang masih hening. Manusia-manusia itu mendahului pagi. Tempat ini memang biasa digunakan sebagai lokasi jogging oleh masyarakat saat hari libur, seperti hari minggu ini. Jika sore tiba, tempat ini akan diserbu pelancong baik yang tua maupun muda serta para “pemburu” ikan.
Aroma jajanan mulai tercium saat mentari menenggelamkan diri di ufuk barat. Kekhasan sate kakul, mengundang pengunjung untuk mampir. Lapak-lapak pedagang pun semakin ramai berdiri. Semakin malam, pengunjung semakin banyak.
Bagi Buleleng, tempat ini adalah serpihan sejarah di masa lampau. “Pelabuhan Buleleng merekam kejayaan kerajaan Buleleng”, kata seorang bapak yang saya temui di lokasi. “Sejarah kebesaran Buleleng tercermin di bangunan tua ini”, lanjutnya. Pelabuhan Buleleng di Kabupaten Singaraja sebagai pintu utama Bali sejak masa pendudukan Belanda hingga menjadi ibu kota Provinsi Sunda Kecil, periode tahun 1950-1958.

Jika di eks Pelabuhan Buleleng akan dibangun gedung konvensi, bagaimana nasib deretan bangunan tua di sisi timur pelabuhan itu? Inilah yang menjadi dilema saat ini. Karena gedung konvensi bertaraf internasional yang beranggaran 3,5 miliar akan dibangun di areal bekas bangunan tua peninggalan Belanda itu. Sejumlah warga menyayangkan pembongkaran itu, mengingat keberadaannya bisa menjadi pendukung kawasan wisata Kota Singaraja. Menyikapi hal itu, Bupati Bagiada bingung.
“Ada yang berpandangan bangunan tua itu harus dipertahankan. Ada yang bilang itu hanya gudang rusak yang berbahaya dan harus dibongkar,” katanya di suatu kesempatan. Pembongkaran bangunan saksi bisu perjalanan Buleleng sebagai ibukota Sunda Kecil dan berbagai peristiwa heriok perjuangan Bangsa Indonesia itu juga didasari dengan kondisi bangunan yang tidak terawat dan tidak masuk dalam kawasan dilindungi (heterage).

Kamis, 20 Januari 2011

Hadiah Terbaik

Rahangnya yang kaku dan keras bergerak naik turun saat mengunyah gulai ayam masakan Ibu. Rambut ikalnya mengkilat oleh minyak rambut dan rapi disisir kebelakang, dia Ayahku . Ibu dengan rambut panjang yang digulung membentuk sanggul, terlihat santai dan sesekali melerai kedua kakak perempuanku yang sedang bersitegang tentang gulai ayam. Kakak perempuanku kembar indentik, tak jarang kami salah menyebut namanya. Mereka bisa mempermasalahkan hal yang menurut kami sederhana, semisal telur mata sapi. Mereka akan protes kalau menemukan kuning telurnya berada di pinggir bukan di tengah!. Mereka tak akan memakannya. Mau tak mau Ibu harus mengulang beberapa kali, sampai kuning telurnya berada di tengah. Aku sendiri adalah si bungsu. Aku punya garis wajah yang tegas, aku punya rambut ikal, aku punya mata setajam elang, seperti punya ayah. Aku sangat mirip dengan Ayah.
Hari itu ulang tahunku yang ke tujuh. Aku mendapat keistimewaan menjadi yang pertama mencicipi gulai ayam, mengambil bagian yang paling aku suka. Doa dan harapan terbaik dipanjatkan untukku, tak lupa dengan hadiahnya.
Beberapa kali aku mendapati kedua kakak perempuanku melirik sambil tersenyum aneh. Aku hanya bisa memandang sinis ke arah mereka. Sepertinya mereka merencanakan sesuatu. Mereka sedikit jahil. Mereka pernah memasukkan kodok ke dalam tas sekolahku. Aku ingat sekali itu, aku melompat ke atas meja dan melempar tasku jauh.
-
Meja makan sudah rapi, kedua kakak perempuanku sudah mengangkat piring – piring kotor ke dapur. Tinggal aku dan Ibu yang masih duduk sambil bercerita tentang hari ulang tahunnya yang tak pernah ada perayaan, bahkan makanan enak. ‘Bersyukur atas apa yang kita miliki sekarang, berjuang untuk esok yang lebih baik lagi. Itu yang terutama’ pesan Ibu sambil meraih tanganku memakaikan sebuah jam tangan yang bisa bersinar ditempat yang gelap. ‘Selamat ulangtahun Nak’ bisik Ibu di telingaku saat tubuhku dalam dekapan hangatnya.
Kedua kakak perempuanku, bersamaan memberikan sebuah buku bergambar pesawat terbang, “Selamat ulang tahun!”.
Aku punya cita – cita menjadi pilot. Aku ingin terbang mengelilingi Indonesia. Aku ingin menjadi pilot yang membawa Ayah, Ibu, dan kedua Kakak perempuanku menikmati indahnya pantai Kuta, dan tempat wisata lainnya yang tanah airku punya.
Maka dari itu, aku berharap hadiah dari Ayah adalah sebuah miniatur pesawat. Aku sudah mengutarakannya beberapa hari yang lalu. Aku ingin hadiah sebuah miniatur pesawat. Tapi aku tak melihat Ayah selepas makan siang, aku tak melihat tanda – tanda Ayah akan memberikan hadiah, bahkan ucapan selamat ulang tahun pun belum aku dengar darinya.
-
Aku tertidur menunggu sebuah miniatur pesawat, dan terbangun mendengar pintu kamarku diketuk. Kudapati Ayah berdiri memegang sebuah bibit pohon - entah pohon apa aku tidak tahu – pada polybag hitam. ‘Selamat ulang tahun Nak’ katanya sambil menyerahkan bibit pohon itu. Tidak ada miniatur pesawat!. Hadiah ulangtahunku hanyalah bibit pohon!.
Kuletakkan bibit pohon itu di sudut kamarku, persis di samping meja belajarku. Sudah seminggu sejak hari ulang tahunku, aku membiarkan bibit pohon itu begitu saja. Beberapa helai daunnya sudah mulai menguning, gugur, dan batangnya yang masih kurus itu mengerut kekurangan air. Aku membiarkannya begitu saja, sampai Ayah memberi penjelasan itu bibit pohon apa? Kenapa bibit pohon? Kenapa tidak miniatur pesawat seperti yang aku minta!.
Sepertinya tidak akan ada penjelasan tentang bibit pohon itu. Dan aku pun tak sampai hati membiarkan pohon itu mati kekeringan, kusingkirkan egoku, aku menghampiri ayah di suatu sore yang berangin, meminta bantuannya menanam bibit pohon itu di halaman rumah.
-
Pagi sebelum ke sekolah aku menyiramnya dan sore setelah matahari terbenam, begitu seterusnya. Belakangan aku tahu itu adalah pohon mangga, setelah kusobek daunnya dan kudekatkan pada hidungku.
Seiring berjalannya waktu, aku menyadari aku sangat menyayangi pohon mangga itu, aku sering duduk berdampingan dengannya setelah aku menyiramnya. Kadang aku bercerita tentang Ayah, Ibu, dan Kakakku si kembar. Beberapa kali juga aku mendapati tanahnya sudah bertabur kotoran ayam saat aku lupa memberikan pupuk.
Tahun kelima, pohon manggaku berbuah. Hanya ada sepuluh buah, masa berbuah yang akan datang buahnya pasti lebih dari itu kata Ayah. Kami menikmati buahnya selepas makan siang. Ada rasa bangga dan malu memakannya. Mengingat aku sangat kecewa dan menelantarkannya hampir seminggu lebih.
Tahun kesepuluh. Masa musim buah, kami memanen hampir lima karung buah mangga. Aku membagikannya kepada semua tetangga dan teman sekolahku. ‘Pohon manggaku berbuah’ begitu kataku saat membagikannya. Selebihnya Ayah menawarkan seorang petani upahan yang menempati rumah berdinding anyaman bambu untuk menjualnya di pasar. ‘Masih ada masa panen berikutnya’ begitu kata Ayah saat aku menanyakan uang hasil penjualan buah manggaku. Petani itu menitikkan airmata saat Ayah memberikan semua hasil penjualan buah manggaku kepadanya. Buah manggaku terjual habis.
-
Tahun ke lima belas. Pohon mangga itu telah membuatku jatuh cinta dengan kehijauan dan kesegaran yang dibagikannya. Aku ingin mempelajari mereka dan melestarikannya.
Sebuah foto diambil bersama Ayah, Ibu, dan Kakakku si Kembar dengan latar pohon manggaku. Hari itu aku dan Ayah bersandar pada batang pohon manggaku, menghabiskan sore dengan cerita tentang perjuanganku menyelesaikan skripsi hingga aku menyandang gelar S.Hut.
-
Baru dua hari aku berada di perantauan, aku harus segera pulang.
Secepatnya!.
Ibu tersenyum menyambutku. Tangannya yang sudah keriput membimbingku pada tubuh yang terbujur kaku pada dipan kayu. Ayah terkena serangan jantung, dan meninggal tak lama setelah mendapatkan perawatan dari medis.
Aku duduk menyandarkan punggung pada pohon manggaku. Empat puluh hari sudah sejak kepergian Ayah, semua kenangan melintas saat bersama Ayah tanpa kupinta. Aku sangat merindukannya. Kedua kakak perempuanku datang dan duduk diam bersama dalam kerinduan.
Pohon mangga itu, hadiah terindah dan terbaik dari Ayah. Pohon itu satu bentuk yang akan hidup untuk puluhan tahun kedepan, yang akan selalu mengingatkanku pada Ayah dan juga sebagai warisan yang hidup untuk cucunya.
-
Tahun ke- 32
Aku merasakan pundakku diusap pelan oleh wanita hebat yang telah melahirkan jagoan kecilku. Pandangan kami terpaku pada tubuh kecil yang tertidur nyenyak dalam pelukan Neneknya. Dua buah kursi panjang di bawah pohon mangga itu jadi tempat terbaik untuk bersantai.
-
Sekarang jagoan kecilku punya tugas setiap pagi dan sore hari, menyiram pohon akasia yang berada di sudut taman rumah. Pohon akasia itu sekarang berumur tujuh tahun, seumur dengan jagoan kecilku. Dia kelihatan bangga sekali dengan pohon itu, terlebih saat kuceritakan kisah pohon mangga yang sampai sekarang masih berdiri kokoh di depan rumah neneknya. Pernah dia dengan sangat bangga memperkenalkan pohon itu kepada teman sekelasnya.
“Ini pohonku, mana pohonmu?”

Sabtu, 25 Desember 2010

Iptek dan Kehidupan Manusia


Hubungan antara ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang melalui tahapan-tahapan hingga berada pada fase seperti sekarang ini. Tahap pertama ialah apa yang dikenal dengan revolusi industri. Tahap kedua adalah pemaksimalan pengembangan teknologi yang telah ada. Ketiga, tahap teknologi modern (Arnyana, 2005:91).
Seperti yang kita ketahui, teknologi kini telah merembes dalam kehidupan kebanyakan manusia bahkan dari kalangan atas hingga menengah kebawah sekalipun. Dimana upaya tersebut merupakan cara atau jalan di dalam mewujudkan kesejahteraan dan peningkatan harkat martabat manusia. Untuk mendayagunakan iptek diperlukan nilai-nilai luhur agar dapat dipertanggungjawabkan.
Disamping itu, perkembangan iptek bisa bermanfaat untuk kemajuan hidup manusia dan juga dapat memberikan dampak negatif. Maka, dalam perkembangan iptek, ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan iptek untuk menekan dampak negatif  iptek seminimal mungkin.
Atas dasar kreatifitas akalnya, manusia mengembangkan iptek dalam rangka untuk mengolah SDA yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Di mana dalam pengembangan iptek harus didasarkan terhadap moral dan kemanusiaan yang adil dan beradab, agar semua masyarakat mengecam  iptek secara merata. Begitu juga diharapkan SDM nya bisa lebih baik lagi, apalagi banyak kemudahan yang kita dapatkan.
Namun, berbanding terbalik dengan realita yang ada karena semakin canggih perkembangan teknologi, telah membuat masyarakat menjadi malas yang disebabkan oleh kemudahan-kemudahan yang ada tersebut.ambil saja salah satu contoh perkembangan iptek dibidang telekomunikasi dimana zaman dahulu handphone itu sangat langka karena harganya yang mahal berbeda dengan sekarang harga handphone sudah sangat murah dan menjangkau lapisan menengah ke bawah.
Disatu sisi telah terjadi perkembangan yang sangat baik sekali di aspek telekomunikasi, namun pelaksanaan pembangunan iptek masih belum merata (Perpustakaan Online Bloger Indonesia, 2011). Masih banyak masyarakat kurang mampu yang putus harapannya untuk mendapatkan pengetahuan dan teknologi tersebut.hal itu dikarenakan tingginya biaya pendidikan yang harus mereka tanggung, maka dari itu pemerintah perlu menyikapi dan menanggapi masalah-masalah tersebut, agar peranan iptek dapat bertujuan untuk meningkatkan sumber daya manusia yang ada.
Kalaupun teknologi mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti teknologi sinonim dengan kebenaran. Sebab iptek hanya mampu menampilkan kenyataan . Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan (Asis Gande, 2009). Tentu saja iptek tidak mengenal moral kemanusiaan, oleh karena iptek tidak pernah bisa menjadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah manusia. 

Dari ilustrasi di atas bisa kita simpulkan bahwa iptek sangat penting bagi manusia.  Hal ini disebabkan  karena, keterkaitan iptek dalam kehidupan manusia sangat erat dan saling timbal balik.

Jumat, 26 November 2010

DUA PEKERJAAN RUMAH PSSI


Saya tersenyum ketika mengetahui ada buku berjudul Dosa-dosa Nurdin Halid yang dikarang penulis bernama Erwiyantoro. Separah itukah ketua umum organisasi sepak bola tertinggi negeri ini? Jika begitu, mengapa masih saja terjadi kisruh di tubuh PSSI? Mengapa masih diteruskan carut marut sepak bola tanah air? Jika sudah salah mengapa tidak diperbaiki?
Fair play adalah embrio sepak bola. Hendaknya semua orang yang terlibat dalam olahraga terpopuler di dunia ini memiliki sikap fair play ini. Bisa dimaafkan jika sebuah kesalahan dilakukan tidak sengaja. Tapi jika selalu membuat kesalahan? Wajib dikartu merah ataupun diskorsing!
Negara kita (katanya) menjunjung tinggi demokrasi. Rakyat adalah kuncinya. Tapi mengapa organisasi sepak bola tertinggi negeri ini seakan tutup mata dengan dua hal di atas? Fair play dan demokrasi.
Inikah demokrasi versi PSSI? Mungkin. Karena ini memang khusus demokrasi para punggawa PSSI saja. Bukan musyawarah yang melibatkan rakyat. Buktinya PSSI tidak pernah mendengar aspirasi rakyat. Itu masalah pertama. Sudah banyak kritik-kritik pedas yang tergores di media-media cetak baik media olahraga maupun media non olahraga. FIFA sebagai organisasi tertinggi sepak bola di kolong jagad tak digubris. Kasus PSSI sudah parah. Orang-orang di dalamnya masih menutup mata.
Masalah lain, sosialisasi PSSI sangat kurang terkait pembagian hak suara. Jangan salahkan kericuhan Kongres PSSI yang digelar di Hotel The Premier, Pekanbaru kemarin. Saya rasa PSSI perlu memperhatikan dua aspek di atas dalam bekerja. Jika tidak, saya yakin teman-teman pencinta sepak bola tetap mengajukan protes. Jangan salahkan kami nantinya, karena kami hanya ingin perbaikan di tubuh PSSI dan kebangkitan Macan Asia.