Selasa, 16 April 2013

Esai Pendek: Menghargai Keberagaman



Masyarakat Indonesia dilihat dari sudut kebudayaannya adalah plural (jamak) dan sekaligus juga heterogen (aneka ragam). Kondisi kemajemukan budaya masyarakat Indonesia di satu pihak membuat kita bangga, namun sesuai dengan konsep rwa bhineda atau oposisi binary, di balik kebanggaan/berkah itu, kemajemukkan juga mengandung musibah yakni kerawanan akan konflik.
Harusnya perbedaan tidak dijadikan hambatan dalam berinteraksi antarmanusia. Alasannya, karena pada hakikatnya ada sebuah kesamaan yang paling mendasar, yaitu sama-sama merupakan manusia yang memiliki hati nurani. Inilah konsep ideal yang ditawarkan untuk menyikapi keberagaman budaya di Indonesia.
Kita sebagai rakyat Indonesia harusnya saling menghormati dan menghargai antar satu dengan yang lainnya, antar satu suku dengan suku lainnya, antara agama satu dengan yang lainnya, tanpa sedikitpun merendahkan suku, budaya, adat, dan juga agama yang dimiliki orang lain.
Bukankah berbeda itu indah? Keberagaman ibarat pelangi. Pelangi itu terdiri dari berbagai warna yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu, karena beraneka ragam inilah yang menyebabkan pelangi itu indah dilihat bukan?
Pluralisme (kemajemukan) budaya menunjukkan betapa kayanya suatu negara. Negara Indonesia merupakan salah satunya. Betapa kayanya negara kita ini yang memiliki beraneka ragam suku, bahasa daerah, makanan, dan hasil kesenian indah lainnya.
Pentingnya pluralisme budaya adalah untuk menumbuhkan sikap kecintaan akan budaya masing-masing, menciptakan rasa tenggang rasa antar pemilik kebudayaan yang satu dengan yang lainnya, dan adanya pluralisme akan menghilangkan kebosanan. Harusnya kita menyadari pluralisme budaya bukanlah sebuah alasan untuk memecah belah persatuan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar